well, barusan baca di papan pengumuman deket pintu gerbang dalem sekolah tadi pagi sih soal pengumuman SNMPTN Undangan 2012. meskipun aku masih kelas 11, dan baru tahun depan deg-degan gara-gara beginian, gak ada salahnya dong aku ikut seneng dan berdoa semoga namaku yang tertera disitu tahun depan. amiiiiiin.
the only way that I can do to reach that adalah: belajar. lalu berdoa. dan berusaha. *diam sejenak* oke itu wajar. dan emang super wajar. dan bahkan wajar sekali. oke aku ngomong apa? aku sendiri gak ngerti.
jadi begini. belajar itu tidak semudah makan ayam goreng saat laper. belajar memang mudah. tapi untuk mengambil hikmah dan ilmu apa yang bisa kita serap dari pelajaran yang kita pelajari itu yang susah. apalagi dengan tekanan dan tuntutan sekolah-sekolah zaman sekarang, belajar dari satu buku, dua buku aja gak bakalan cukup. apalagi ngejar SNMPTN Undangan. istilahnya bagaikan laper tapi kita harus masak makanan kita itu sendiri dan bahan-bahan yang kita punya gak cukup buat bikin masakan biar kita bisa kenyang, jadi kita harus cari bahan-bahan lain biar masakan kita jadi dan kita bisa makan. masoooook~
harapan buat pertengangan tahun ini:
-ranking tetep di 10 besar dan kalau bisa posisinya naik biar gak stuck di ranking 10 dari kelas 10 hahaha-_-
harapan buat tahun depan:
-namaku tercantum di daftar peserta lolos SNMPTN Undangan 2013. semoga nama anak-anak mbadokers juga tercantum sebagai daftar peserta lolos SNMPTN Undangan 2013 biar kita semua gak udah galau-galau lagi soal PTN lol wqwqwq karena kita semua masuk kelas 10 barengan, masuk IPA juga barengan, lolos SNMPTN juga harus barengan lagi:'3 pokoke seneng, pokoke wareg! xD
-jadi anak FK UNAIR!!! amiiiiin o:)
-lulus UN 2013
-masih belum mikirin. sementara itu dulu wqwqwq
semoga di bulan ini, di tahun 2013, namaku, nama anak-anak mbadokers, ada di daftar penerima SNMPTN Undangan 2013. mari berjuang konco-konco urip matekku♥ kita bisa! AAAAAWWWWW YEAAAAAA (:D)))
14.2.12
13.2.12
29.1.12
28.1.12
23.1.12
22.1.12
ayam goreng tak bertuan
hari ini salah satu anggota #mbadokers, Melon alias Iki alias Riski merayakan hari jadinya yang ke 17. muahaha emang sih dia paling tua diantara kita bertujuh, dan Melon ini anggota cowok satu-satunya di #mbadokers. well, sebenernya ini gak ada hubungannya sama judul cerita diatas tapi gak afdol rasanya kalau gak cerita semuanya dari awal, dari barusan nyampe TP hingga kita menemukan ayam goreng tak bertuan seperti yang tersebut diatas.
jadi ceritanya begini. sepulang KTS kemaren, si Melon bilang ke kita-kita kalau dia mau traktiran besok (maksudnya hari ini gitu lho ah) di TP. waktu dan tempat kami persilakan masih belum ditentukan, dan terjadilah perdebatan sengit, and finally, kita memutuskan J.CO TP 1 sebagai tujuan utama pelaksanaan acara sunatan massal traktiran. acara traktiran berlangsung damai dan tentram. oke, bohong. acara traktirannya berlangsung ricuh dan full of laugh. apalagi foto-foto dengan pose mendem gara-gara si Melon beli mix max (tenang, cuma buat foto kok, aku gak minum). aseli kacau abis.
setelah berkutat cukup lama di J.CO, kita muter-muter TP dan memutuskan main bom-bom car di stinger. nah, ceritanya itu kita berlima (Hana sama Lia gak ikut jadinya cuma berlima hiks) kelaparan, terus akhirnya makan di KFC TP 2. ternyata di KFC TP 2 itu tempat duduk yang buat berlima udah pada abis didudukin sama orang, sempet galau juga pindah-pindah tempat duduk, hingga akhirnya kita memutuskan buat duduk di bangku deket jendela. kebetulan bangku itu juga buat 6 orang, jadinya pas buat kita.
nah, disini nih kejanggalan dimulai. entah siapa duluan yang lihat ada ayam goreng beserta nasi dan minumnya yang masih utuh, tapi yang jelas waktu itu kita semua kaget. setelah cukup lama berdebat dan keheranan kenapa ada yang tega meninggalkan ayam goreng tak berdosa itu sendirian padahal di luar sana masih banyak yang gak bisa makan KFC kaya katanya Andik sama Beldon, Manda ngomong juga 'sumpah deh itu tadi orangnya ninggalin gitu aja. ya utuh gitu'. pendapat ini sempet gak diragukan, dan imajinasi kita mulai bermain.
imajinasinya begini. kalau misalnya ada salah satu dari kita yang makan ayam goreng tak bertuan itu, mungkin aja orangnya bisa balik terus nanya 'ayam goreng saya kalian makan ya?' atau bisa aja orang yang punya ayam goreng itu tanya ke mas-mas pelayan 'mas, lihat ayam goreng saya di meja itu gak?' kalau masnya jawab 'gak tahu tuh' gapapa, kalau jawabnya 'tadi saya lihat di situ kok' bisa habis nanti. tapi kalau kita yang tanya ke mas-mas pelayannya 'mas, ini ayam goreng siapa? boleh gak saya makan?' juga nggobloki banget, secara kan kita akan pinter, diem, dan alim gitu.
oke, lanjut. seletah pesen makanan, kita berlima duduk di bangku dengan ayam-goreng-tak-bertuan diatasnya. sempet ngerasa konyol abis sih, makan makanan sendiri dengan satu ayam goreng tak bertuan yang menggoda selera itu. kita berlima sempet berdebat itu ayam goreng mau diapain. sempet kepikiran buat ngabisin ayam goreng tak bertuan itu daripada mubazir gak ada yang makan. setelah perdebatan cukup panjang, Melon pun nekat mencoba untuk ngabisin ayam tak bertuan itu.
Melon: 'he temenan yo iki tak entekno?'
Beldon: 'wes ndang ayo"
Andik: 'lanjutno Mel, aku nang sampingmu enak nek kape njaluk cedek'
Manda: 'wes ndang'
Aku: 'ojok wah, Mel'
Melon: 'imajinasiku main rek, engkuk nek wong e teko takok 'mana ayam saya?' yo opo?'
Manda: *ngelihat keluat jendela* 'eh iku lho sing nduwe mau, wes moleh iku lho sing tengah areke. wes gapopo ndang, Mel. wes gak kiro mbalek wah'
Aku: 'hahaha iyo wes ndang getno'
Beldon: 'jarene ojok, Ndang?'
Andik: 'ojok dimaem dewe maksude, bagi-bagi ngono lho ah'
Aku: 'yo iku maksud e hahaha'
oke, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, ayam goreng tak bertuan itu segera berpindah tangan ke tangannya Melon dengan sekejap. kita lihat-lihatan dan terdiam, lalu kemudian ketawa ngakak dan berusaha pasang tampang se-stay cool mungkin. gigitan pertama, masih aneh. tolah-toleh koyok wong opo ae. gigitan kedua, mulai aman. ketiga, keempat, kelima, sudah mulai terbiasa dengan ayam goreng tak bertuan itu. berasa ayam goreng milik sendiri begitu ya.
yak, akhirnya ayam goreng tak bertuan itu pun habis di tangan Melon. kita semua galau antara itu dosa apa dapet pahala. di satu sisi, kita makan yang bukan milik kita, meskipun gak ikutan makan sih tapi kan kita ikut ngomporin si Melon muehehehe. and the other side is itu makanan bakalan mubazir karena gak ada yang makan, dan itu juga dosa. akhirnya dengan segala pertimbangan sampe ngadain KMB jilid 2 Melon memutuskan buat makan ayam goreng tak bertuan itu. anggap aja itu rezeki lah buat Melon yang udah kita porotin J.CO selusin dan bawain barang-barang kita pas main bom bom car. makasih juga ya Mel mehehehe. that was the silliest moment ever deh. untung gak banyak yang ngelihat hahaha.
well, buat siapapun anda yang mungin ngerasa ninggalin makanan itu di meja kita, lain kali kalau gak nafsu makan ya mending gak usah makan atau dibungkus aja terus dimakan di rumah. lumayan kan buat makan malam atau sarapan pagi besoknya. just sayin, bro.
by the way...
HAPPY SUPER SWEET SEVENTEEN M. RIZKI DWI PUTRA! #mbadokers loves yaaaaa:3:* always do and be the best, sukses selalu, dan semuanya yang baik-baik deh. super big hug:333
gallery:
setelah berkutat cukup lama di J.CO, kita muter-muter TP dan memutuskan main bom-bom car di stinger. nah, ceritanya itu kita berlima (Hana sama Lia gak ikut jadinya cuma berlima hiks) kelaparan, terus akhirnya makan di KFC TP 2. ternyata di KFC TP 2 itu tempat duduk yang buat berlima udah pada abis didudukin sama orang, sempet galau juga pindah-pindah tempat duduk, hingga akhirnya kita memutuskan buat duduk di bangku deket jendela. kebetulan bangku itu juga buat 6 orang, jadinya pas buat kita.
nah, disini nih kejanggalan dimulai. entah siapa duluan yang lihat ada ayam goreng beserta nasi dan minumnya yang masih utuh, tapi yang jelas waktu itu kita semua kaget. setelah cukup lama berdebat dan keheranan kenapa ada yang tega meninggalkan ayam goreng tak berdosa itu sendirian padahal di luar sana masih banyak yang gak bisa makan KFC kaya katanya Andik sama Beldon, Manda ngomong juga 'sumpah deh itu tadi orangnya ninggalin gitu aja. ya utuh gitu'. pendapat ini sempet gak diragukan, dan imajinasi kita mulai bermain.
![]() |
| so, here's the ayam goreng tak bertuan. lol |
![]() |
| watch out, Mel=))) |
Melon: 'he temenan yo iki tak entekno?'
Beldon: 'wes ndang ayo"
Andik: 'lanjutno Mel, aku nang sampingmu enak nek kape njaluk cedek'
Manda: 'wes ndang'
Aku: 'ojok wah, Mel'
Melon: 'imajinasiku main rek, engkuk nek wong e teko takok 'mana ayam saya?' yo opo?'
Manda: *ngelihat keluat jendela* 'eh iku lho sing nduwe mau, wes moleh iku lho sing tengah areke. wes gapopo ndang, Mel. wes gak kiro mbalek wah'
Aku: 'hahaha iyo wes ndang getno'
Beldon: 'jarene ojok, Ndang?'
Andik: 'ojok dimaem dewe maksude, bagi-bagi ngono lho ah'
Aku: 'yo iku maksud e hahaha'
oke, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, ayam goreng tak bertuan itu segera berpindah tangan ke tangannya Melon dengan sekejap. kita lihat-lihatan dan terdiam, lalu kemudian ketawa ngakak dan berusaha pasang tampang se-stay cool mungkin. gigitan pertama, masih aneh. tolah-toleh koyok wong opo ae. gigitan kedua, mulai aman. ketiga, keempat, kelima, sudah mulai terbiasa dengan ayam goreng tak bertuan itu. berasa ayam goreng milik sendiri begitu ya.
![]() | |
| and finally...... |
well, buat siapapun anda yang mungin ngerasa ninggalin makanan itu di meja kita, lain kali kalau gak nafsu makan ya mending gak usah makan atau dibungkus aja terus dimakan di rumah. lumayan kan buat makan malam atau sarapan pagi besoknya. just sayin, bro.
by the way...
HAPPY SUPER SWEET SEVENTEEN M. RIZKI DWI PUTRA! #mbadokers loves yaaaaa:3:* always do and be the best, sukses selalu, dan semuanya yang baik-baik deh. super big hug:333
| happy super sweet seventen M. Rizki Dwi Putra alias Melon!!!:3 awas mix max-nya om |
gallery:
| dari kiri: Melon, Andik, Beldon, Manda |
| me and a bottle of mix max lol no I'm not going to drink that |
17.1.12
18.12.11
Kertas
Aku masih termenung di hadapan kertas putih itu, menunggu agar pikiranku mau menuangkan isi kedalamnya, menunggu agar tanganku menari seiring dengan berjalannya detik-detik jam dinding yang terdengar jelas. Sudah 10 menit berlalu, tapi aku masih belum bisa mendapatkan apa yang aku inginkan: ide. Sesekali aku memukul-mukulkan penaku ke meja gambar dengan harapan agar ide itu datang lebih cepat. Namun ternyata itu tidak berhasil. Kertas putih itu masih tetap kosong melompong tanpa ada satupun goresan di atasnya.
Aku putus asa. Ingin rasanya aku beranjak dari meja gambarku dan berjalan ke dapur untuk sekedar minum teh dan menikmati hujan. Tetapi tampaknya kertas dan pena ini seolah mencegahku untuk beranjak, memaksaku untuk tetap mencari ide itu. ‘Baiklah kertas, kalau ini maumu aku akan tetap duduk disini. Aku janji tidak akan meninggalkanmu sebelum aku menggoreskan sesuatu di atasmu’. Mungkin aku tampak seperti orang gila saat berbicara sendiri kepada kertas putih itu. Dia tidak menjawab, tentu saja. Dan kertas itu masih tetap kosong.
Sudah nyaris satu jam, tetapi kertas itu masih tetap kosong. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa sesulit ini mendapatkan ide, padahal sebelumnya aku sangat mudah mendapat ide. Semacam gambaran akan jadi apa karyaku nanti. Tetapi ini beda. Aku bahkan nyaris lupa kenapa aku mengambil kertas putih dan pena lalu duduk tenang di meja gambarku.
Aku putus asa dan memutuskan untuk menatap kearah hujan melalui jendela kecil di depan meja gambarku. Aku tidak merdengar suara lain selain suara hujan di telingaku saat ini. Suaranya tetap sama, menetes dengan ramai di atas genting rumahku. Aku terus memangdang ke arah derasnya hujan. Cukup lama aku memandangi hujan yang turun ramai-ramai itu, sebelum bayangan sesosok laki-laki muncul di pikiranku.
Laki-laki itu pernah ada di hidupku, dan dia adalah orang yang telah merubah total pandanganku soal apa arti hidup sesungguhnya. Ia sering membuatku tertawa terbahak-bahak, juga menangis tersedu-sedu. Ia tidak pernah bosan mendengarkan ceritaku soal Paris, dan keinginanku tinggal di apartemen dengan menara Eiffel sebagai pemandangan setiap aku bangun tidur. Aku juga sering menatap wajahnya lekat-lekat saat ia tengah terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia akan memalingkan wajahnya kearahku, lalu melemparkan senyum paling indah yang pernah kulihat.
Aku masih ingat betul saat aku berlari memeluknya sambil menangis saat ibu memarahiku hanya karena nilai-nilaiku yang sama sekali tidak membuatnya senang. Ia hanya tersenyum dengan tenang, seolah dunia ini bulat. ‘Ibumu hanya ingin yang terbaik darimu, Jane. Dan kau belum memberikan yang terbaik untuknya’ ‘lalu apa yang harus aku lakukan?’ ‘Menggali apa yang belum kau gali dari dirimu’
Ia mungkin sudah lupa kejadian di bawah pohon sore itu, tapi aku masih mengingatnya hingga sekarang. Saat itu aku tengah asyik berkutat dengan kertasku, menggambar seekor kelinci yang berlarian di padang rumput. Lalu kemudian ia datang membawakanku sekotak cat air. ‘Sekarang gambaranmu tidak akan lagi berwarna hitam putih seperti itu. Dengan alat ini, gambaranmu akan jadi lebih berwarna bukan? Aku tahu kau sudah menginginkan alat ini sejak lama, hanya saja uang tabunganmu tidak cukup untuk membelinya kan?’ Aku terdiam. Darimana ia tahu soal ini? Apakah ia membuka buku harianku yang aku biarkan terbuka di kamarku semalaman?
Siang itu aku melihatnya duduk di bawah pohon yang sama dimana ia memberiku sekotak cat air itu. Kini cat air itu sudah habis, dan aku bermaksud untuk memintanya menemaniku membeli cat air yang baru di toko kecil di seberang bukit. Aku berlari dengan riang menuju ke tempat ia duduk, dengan membawa sekantung uang receh yang telah aku kumpulkan untuk membeli cat air yang baru. Namun belum sempat aku berkata, ia segera berdiri dan memelukku. Erat. Erat sekali.
‘Kau ini kenapa? Kau sedang sedih?’ ‘Tidak, Jane’ ‘lalu?’ Ia tidak menjawab. Ia tetap memelukku dengan erat. Bahkan lebih erat dari sebelumnya. ‘Sebenarnya kau ini kenapa? Jawab pertanyaanku!’ aku memang agak memaksa, karena sudah selama ini dan ia belum angkat bicara juga. ‘Kau mau apa? Maksudku, apa yang bisa aku lakukan untukmu saat ini? Apapun. Katakan padaku’ ‘kau ini kenapa?’ ‘Sudahlah, Jane. Jawab saja pertanyaanku’ ‘baiklah, tolong antarkan aku ke toko kecil seberang bukit agar aku bisa membeli cat air baru, cat air pemberianmu sudah habis’ tanpa banyak suara ia segera menggeretku menuju sepeda hitam miliknya. ‘Naiklah’
Aku masih tidak mengerti mengapa raut wajahnya begitu kusut. Aku tidak berani bertanya karena takut mengganggu konsentrasinya mengayuh sepeda. Sungguh, tidak biasanya ia semuram ini. Dan jujur, aku tidak bisa melihat ia terus muram seperti ini.
‘Sebenarnya kau ini kena..’ ‘aku akan pindah dari sini, Jane. Malam ini. Ayah dan ibuku memaksaku untuk ikut mereka pindah ke London, dan aku tidak bisa menolaknya’ aku terdiam. Bibirku serasa kaku. ‘maafkan aku, Jane. Mungkin kau akan sangat sedih mendengarnya. Tapi aku lebih sedih lagi karena akan meninggalkan sahabat sepertimu’ mataku mulai terasa panas dan berair, hingga aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku tumpah begitu saja di hadapannya. ‘Jangan menangis, Jane. Aku mohon’ tapi semuanya sudah terlambat, aku sudah terlanjur sedih mendengarnya. Sangat sedih.
Malam itu keluarganya berpamitan denganku, juga ayah dan ibuku. Aku hanya menatap wajahnya dengan lesu dan pasrah sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. ‘Aku akan kembali lagi suatu hari nanti, Jane. Aku berjanji’ ia tersenyum penuh harap. Namun ada setumpuk kesedihan di balik senyumnya. Senyum yang tidak lagi seindah biasanya. Senyum yang cenderung dipaksakan, menurutku. Aku membalas senyumnya, dengan lambaian tangan yang semakin kencang.
Aku ingat betul, malam itu aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan sosoknya. Betapa bodohnya saat itu aku hanya bisa menangis, bukannya membuat ia mengenang saat-saat terakhir bersamaku sebelum hari kepindahannya tiba. Aku terus menyalahkan diriku. Hingga aku kelelahan sendiri dan tertidur dengan linangan air mata.
Saat itu tepat 2 tahun kepindahannya, dan ia belum juga kembali. ‘Kemana saja kau ini? Kenapa kau tidak menepati janjimu sendiri? Malam ini tepat 2 tahun kau meninggalkanku, dan kau masih belum juga kembali’ aku tahu aku tidak cukup kuat untuk menahan kesedihanku yang mendalam. Aku seharusnya menggali apa yang belum aku gali dari diriku, persis seperti kata dirinya. Aku seharusnya membuat duniaku lebih berwarna dengan mencoba hal-hal baru, tapi aku tidak melakukannya. Aku terlalu larut dalam kesedihan ini selama 2 tahun lamanya. Hingga aku lupa apa yang aku alami dan menyadari diriku tengah terbaring di rumah sakit.
‘Aku dimana bu?’ ‘Kau sedang berasa di rumah sakit, Jane’ ‘aku sakit ya bu?’ Ibuku hanya tersenyum dalam diam. ‘Ibu, jawab pertanyaanku!’ Ia melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan waktu itu, membiarkanku penasaran dengan beribu pertanyaan yang tak sempat aku ungkapkan. Aku melihat sekeliling, dan mendapati ada perban di perut sebelah kiriku. ‘Bu, apa ada seseorang yang menembakku dari jendela saat itu?’ Ibuku masih terdiam dalam senyumnya. ‘Sebentar lagi kau akan tahu, Jane’
Ibu memindahkan tubuhku ke atas kursi roda berwarna biru tua, warna kesukaanku. Aku keluar dari kamar, dan menyadari matahari sudah bersinar dengan cerahnya. Tapi ini aneh, aku nampak seperti bayi yang baru merasakan hangatnya sinar matahari. Aku serasa menjalani hidup untuk yang kedua kalinya. ‘Kau senang kan akhirnya bisa melihat sinar matahari lagi, nak?’ Aku hanya mengangguk senang. Sementara ibu terus mendorong kursi roda dan membawaku entah kemana.
‘Tutup matamu ya, Jane. Ini akan menjadi sebuat kejutan untukmu’ ada yang aneh saat ibu mengatakan ‘kejutan’. Intonasinya tampak buruk, dan sepertinya ini bukan kejutan yang baik. Aku menutup mata dan mencoba menampik pikiran itu jauh-jauh dari otakku. Pelan-pelan ibu dan ayahku menurunkanku dari mobil, memindahkanku ke kursi roda, lalu mendorongnya. Aku mencium bau padang rumput hijau yang luas, namun sepertinya ini bukan padang rumput yang biasa aku datangi, dimana ada pohon mangga besar di tengahnya, dan aku bisa duduk di bawahnya untuk menggambar apapun yang aku lihat. Bau rumput-rumput ini aneh. Sangat aneh.
‘Sekarang bukalah matamu, Jane’ ibu melepaskan kain hitam dari kedua mataku. ‘Jangan terkejut ya, Jane. Ibu tahu ini akan berat sekali bagimu’ terlambat. Sekujur tubuhku lemas. Mendadak rasanya kepalaku akan pecah. Jantungku seperti berhenti berdetak selama 2 detik. ‘Bu, ini mimpi kan?’ Ibu tidak menjawab. Beliau malah menangis dan membelai rambutku. ‘Ibu, ibu bohong kan?’ suaraku bergetar. Aku masih tidak percaya atas apa yang aku lihat. Ini terlalu tidak mungkin untuk jadi kenyataan. Ini semua adalah mimpi.
‘Sakit hatimu kambuh malam itu dan kondisimu sudah sangat parah, nak. Dokter sudah mencoba menyelamatkan dirimu, membuat hatimu tetap berfungsi seperti sediakala. Namun terlambat, hatimu sudah terlalu tidak mungkin untuk disembuhkan. Hingga kemudian ia datang jauh-jauh dari London untuk menjenguk keadaanmu. Ia menangis saat mengetahui keadaanmu kritis dan nyaris tak tertolong. Kebetulan sekali saat itu dokter sedang membutuhkan donor hati untukmu. Dengan senang hati ia menawarkan hatinya pada dokter untuk didonorkan kepadamu. Dan sekarang hati yang ada dalam dirimu adalah jantung miliknya. Mungkin ia tidak menepati janjinya akan kembali menemuimu seperti yang ia katakan 2 tahun lalu, namun secara tidak langsung ia telah kembali, dan mungkin dalam sesuatu yang tidak kau harapkan. Sesungguhnya ia sudah kembali, Jane. Ia kembali kepadamu, ke dalam dirimu. Meskipun jasadnya sudah tidak bisa lagi kau lihat.’
Aku tidak tahu harus berkata apa. Terlalu sombong diriku jika aku tidak menangis saat ini. Air mata kesedihan yang bercampur dengan rasa haru dan terima kasih. Benar apa yang dikatanakan oleh ibu, sesungguhnya ia telah kembali, dan memang bukan dalam sesuatu yang aku inginkan. Aku tahu ia akan lebih sedih lagi saat ia menemuiku dalam keadaanku yang sakit parah seperti itu.
Dan hingga hari ini, 15 tahun setelah kejadian itu, aku masih bisa merasakan kehadiran sosok sahabat sepertinya. Ya, karena aku memiliki hatinya dalam diriku. Dan ternyata dengan cara ini ia kembali padaku, dan tidak akan pernah meninggalkanku. Aku masih bisa merasakan ia hidup, hidup di dalam diriku. Meskipun ia sudah tidak bisa lagi melihatku dan duduk bersama di bawah pohon mangga di padang rumput seperti dulu. Ia juga tidak akan bisa menggendong bayi yang ada di dalam perutku ketika bayi itu lahir ke dunia. Tapi setidaknya ia bisa melihatku dari surga, melihatku menggendong bayiku, juga melihatku tertawa bersama suamiku yang tidak lain tidak bukan adalah kakaknya sendiri.
Tidak terasa kini kertas putih itu telah penuh dengan coretan. Coretan yang membentuk sesosok manusia. Ya, sosok itu adalah Alex, sahabatku yang sekarang hidup di dalam diriku. Aku sengaja menggambar wajahnya saat terakhir kali aku bertemu dengannya 17 tahun lalu, sama persis, karena aku masih hafal bagaimana raut wajahnya. Aku tersenyum puas. Ini adalah karya terbaikku semasa hidup, menggambar sesosok orang yang sangat berarti bagiku, sesosok sahabat yang selalu ada dan bisa menerimaku apa adanya, juga menerima sakitku seperti sebuah kelebihan dalam diriku.
Sekarang inilah aku, Jennifer Rowena Campbell, pelukis terkenal dari Birmingham, hidup dengan segala impian yang aku impikan dari kecil, dan sekarang aku tinggal di apartemen dengan pemandagan menara Eiffel di setiap aku bangun dari tidurku. Aku sudah berhasil mencapai apa yang seharusnya aku gali dari diriku, dan membuat hidupku lebih berwarna, bahkan orang lain sekalipun. Dan hal paling menyenangkan lainnya adalah kertas putih ini sudah tidak lagi kosong.
Terima kasih, Alex.
Subscribe to:
Posts (Atom)














