17.11.12

Foto Kelas: The Passioners, XII IPA 1


























Location: Kebun Bibit 2 Wonorejo, Surabaya
Camera: Nikon D3000
Lens: 18-55mm, 55-300mm

24.7.12




kalian percaya akan istilah "best friends forever"? aku sih percaya aja, asalkan ada komitmen diantara mereka-mereka yang menamakan dirinya sebagai sahabat. sahabat nggak selalu diukur dari seberapa sering mereka berada bersama di satu lingkaran yang biasa disebut kumpulan, tapi mereka bisa disebut sahabat ketika mereka saling ada satu sama lain. nggak peduli keadaanya sedih, ataupun senang. sahabat nggak selalu ada di dekat kita, tapi mereka akan selalu ada di hati kita, seperti mereka-mereka yang selalu aku sebut sebagai sahabat, dimana aku bisa berbagi segalanya tanpa perlu merasa malu, tanpa perlu merasa dimusuhi oleh dunia, terpojokkan oleh keadaan. sebenarnya aku hanya perlu satu hal; aku perlu untuk menyebut kalian sebagai sahabatku hingga aku sudah cukup umur untuk dipanggil nenek nantinya.

selamat ulang tahun ke-2 ya untuk kita, mbadokers. :)



20.4.12

So, yeah, happy birthday to me. :|

nggak ada perayaan besar-besaran, nggak ada acara mewah-mewahan, tapi hari ini tetep aja spesial pake telor banget buat aku. hari ini umurku genap 17 tahun. itu artinya aku.......tuek. :|
well nggak banyak cangkem ya, hari ini bener-bener spesial luar biasa sekali banget pake pol. dari jam 12 malem tadi banyak banget yang ngucapin happy birthday, baik via twitter, sms, facebook, maupun instagram. rasanya itu bener-bener seneng banget. rasanya cuma sekali setahun ya bisa sebahagia ini *iya lah emang mau berapa kali ulang tahun setahun-_-* ngahaha. semaleman nggak tidur balesin mention, sibuk banget kayanya. pas bangun pagi juga mama, papa, adek, sama yangti ikutan ngucapin dengan berbagai doa-doa nan indah dan biasanya dari tahun ke tahun selalu sama. hari ini juga rasanya jadi berkah luar biasa, apalagi ditambah remidi fisika yang diundur minggu depan beserta segunung tugas. what a beautiful day, bukan? *lebih berharap lagi jadi what a beautiful year itu kalimat*
daaaaan hari ini aku jadi tawanan para manusia ajaib (baca: mbadokers&friends). nggak terima ampun, baru aja turun dari tangga koridor XI IPA menuju ke pendopo, udah digeruduk. ini masih awal ya, nggeruduknya bawa muffin bread talk dengan lilin diatasnya. wuiiiih rasanya kaya mau terbang. seneng aja ternyata masih ada orang yang sayang banget sama aku sampai segitunya #alay. mukaku nggak berhenti-berhentinya senyum sampe untuku garing sak garing-garinge untu ala pepsodent.

tiup lilinnya, tiup lilinnya:3


sing pose malah bosbes-_-

kue kedua. toh akhirnya dua-duanya ga tak makan=))

dan ternyata kejutannya nggak cuma kue doang. barusan aja jalan keluar dari pendopo sekolah ke gerbang depan, nyariin papa yang udah jemput daritadi, tiba-tiba.........BYOR! seplastik *opo iku seplastik* pop ice durian menghujani rambutku dengan indahnya. disusul oleh sebungkus tepung terigu. lalu 3 butir telur lalu masukkan ke dalam penggorengan, tunggu hingga kecoklatan, tiriskan. sajikan dengan taburan bawang goreng diatasnya dan jadilah saya seperti..........

tinggal digoreng~

indah sekali bukan? setelah itu semuanya pada kabur entah kemana dan hanya tersisa beberapa gelintir anak aja. baguuuuus ya-_-. sampai pada akhirnya tinggal Hana, Febri, Lita, Lia, Penceng yang ada di sekolah. untunglah mereka mau membantu saya membersihkan sisa-sisa telur-telur ajaib ini. :'D

pose dulu sama Hana=))



Hana baiiiik super mau bantuin bersihin telur-telur ini:'D

menyerah. terpaksa berjalan menuju kamar mandi dan.....keramas.

penderitaan belum selesai sampai disitu. perjalanan ke kamar mandi itu melewati semacam pos satpam di pintu samping sekolah. disitu biasanya jadi tongkrongan langganan guru-guru dan wakasek. bener aja, waktu lewat sana ada beberapa guru yang diketahui cukup killer, dan tiba-tiba komentar ngelihat ada manusia berjalan dengan tepung+telor+bau durian di depan beliau-beliau "digoreng aja mbak" what the..........-___-
kurang lebih setengah jam aku di kamar mandi, keramas dan ganti baju. jam 1 aku pulang ke rumah, dan tentu saja sampai di rumah keramas lagi. 4 kali. 4. kali. dan kegiatan masih belum selesai. jam 3 sore aku harus berangkat berangkat ke rumahnya Talen buat kerja kelompok, tapi sampe jam setengah 3 sore mama-papa belum ada tanda-tanda pulang ke rumah. panik pun dimulai. setelah rundingan, si Talen nyuruh Galih buat jemput aku. dan jadilah aku sama Galih meluncur ke rumah Talen yang sebenernya nggak jauh-jauh amat dari sekolah.
di rumah Talen kita ngerjain tugas kesenian, yaitu bikin kaligrafi. di rumah Talen juga ada Lia dan Penceng waktu aku sama Galih dateng. awalnya, kita semua buntu mau bikin kaya gimana (gambar yang di google pada rempong semua jadinya aku nggak bisa ngegambarnya). setelah mikir sampe jam 4 (mikir gini doang sejam ya saking buntunya), secercah inspirasi akhirnya muncul. setelah Lia, Penceng, Talen dan Galih setuju, maka dimulailah proses pembuatan kaligrafi.
sekitar 2 jam kita ngerjain kaligrafinya. mulai dari gunting-gunting, memaku sketa, sampe ngecatnya. semuanya selesai jam 6 sore dan dilanjutkan dengan makan-makan. meskipun makan-makannya bayar sendiri-sendiri dan bukan aku yang traktir, tapi suasana asiknya dapet banget.

sketa kaligrafi. unyu banget coba pake dipaku segala kaya gitu:)))

suasana rumah Talen waktu ditinggal empunya rumah beli pangit sama Penceng, sementara Galih duduk di belakangku. wanita berbaju putih diatas adalah Lia, bukan tante K. sekian

TADAAAAA!!! inilah hasil kaligrafi kita! sebenernya aku yang desain, anak-anak cuma bantuin ngecat wanra birunya doang. tapi tetep aja kan bikinan kita:D ini belum tahap akhir sih, masih ada beberapa sentuhan lain *belagak pelukis profesional*

FYI aja, Penceng sama Talen ini sahabat-sahabat sekelasku yang paling plek setelah mbadokers&friends (sebenernya Lia juga sekelas sih, tapi karena Lia juga mbadokers maka dia tidak masuk hitungan best classmates, Lia itu one of the best of the best friends=)) lol). jadi rasanya kaya kumpul sama keluarga sendiri dan mbadokers&friends. kebetulan kita semua nggak bawa uang banyak, jadi cuma beli mi ayam di ujung jalan, tapi tetep aja nikmatnya terasa, apalagi jarang banget ada quality time kaya gini, khususnya untuk lingkup kelasku ya. makan sambil ngakak-ngakak, bahas mau diapain ini kaligrafi, mainan cat air, dan yang pasti, ngerusuh di rumah Talen yang lebih mirip studio seni daripada rumah ini. pokoknya asik pol! hahaha.
belum selesai sampai disitu aja, sampai di rumah ternyata mama, papa, adek, sama yangti udah nyiapin kejutan berupa pizza tart cake yang pada akhirnya nggak kemakan 2 slices gara-gara ketetesan lilin=)) sabar ya~



pizza tart cake dengan jumlah lilin sebanyak 17 buah. :'D
dengan masih speechless, semuanya nyanyi happy birthday to you, terus naruh pizza tart cake-nya diatas meja. sebelum niup, aku disuruh make a wish dulu sama mama. make a wish-nya nggak perlu tahu ya=))

make a wish model opo iki-_-
daaaaan setelah make a wish, mulailah aku meniup lilinnya meskipun agak rempong karena itu lilin yang matinya susah pol pake banget haaaaaah-___-

blow the candles out, looks like a solo toniiiight~ *lha nyanyi*
okeeeee so, sekian dan terima kasih:D
makasih buat mama, papa, adek, yangti atas pizza tart cake-nya yang langsung ludes tak makan akibat kehabisan tenaga abis ngerjain kaligrafi tadi=))
dan terima kasih juga buat kalian-kalian yang udah ngucapin baik via twitter, facebook, sms, maupun instagram. makasih pol rek. dan buat mbadokers&friends, meskipun aku bukan bb user, tapi aku tahu kalian masang DP sama PM tentang ini semua. makasih juga udah bikin aku jadi monster telor+tepung+pop ice durian hari ini ya. aku sueeeeneng ngepol punya sahabat-sahabat kaya kalian rek, makasih pooool udah ngebikin hidupku di SMA ini lebih berwarna. makasih juga buat Penceng, Talen, sahabat plekku di kelas, juga Lia, deskmate sekaligus anggota mbadokers&friends yang paling diem, polos, innocent, dewasa, udah sabar ngadepin aku yang sepertinya bakalan 2 tahun satu bangku=))
aku sayang kalian rek, sayang pol. makasih buat semuanya. <3333

13.4.12

Tuhan, aku titipkan hatiku pada-Mu, sambil aku mengejar mimpiku. Ku tahu aku bisa mempercayakan Engkau untuk memberikannya pada orang yang berani bermimpi dan takkan lelah mendukung mimpiku; teman seperjuangan yang akan memiliki separuh belahan hatiku, yang akan Kami berikan pada-Mu dalam satuan utuh di akhir perjuangan kami. Semoga merdu salam dari-Mu bisa kami dengar setelah kebersamaan mendorong kami untuk melakukan hal hebat atas ridho-Mu. Jadi, sekali lagi, ku titipkan hatiku dalam kerapuhannya dan kecenderungan perasaannya untuk naik-turun; kuserahkan pada tangan kuasa-Mu.
from Tumblr, by kuntawiaji

19.3.12

part 1

'Sekali-sekali rambut kamu panjangan dikit kek! Betah banget sih jadi mas-mas gadungan kaya gitu' omelan Nadira sama sekali tak aku hiraukan. 'Ve, kamu dengerin aku nggak sih?' akhirnya Nadira sadar bahwa semua perkatannya selama 10 menit terakhir ini tak aku hiraukan sama sekali. 'Hah? Oh, iya Nad, aku dengerin kok' jawabku sambil masih sibuk berkutat dengan laptop dan makalah fisika yang dari kemarin tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Merasa bahwa aku masih mendengarkan, Nadira melanjutkan dongengnya dengan antusias dan dengan topik yang sama: rambutku. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit. Konsentrasiku mulai pecah karena Nadira masih berbicara dalam topik yang sama. Aku sama sekali tidak suka, bahkan terkesan menghindari, saat orang mulai mengomentari penampilanku, apalagi mengenai rambut. Memang Nadira sudah menjadi sahabatku selama 4 tahun. Kami saling terbuka, tidak ada yang kami tutup-tutupi. Istilahnya, tidak ada rahasia-rahasiaan. Semua sifat positif dan negatif Nadira juga sudah aku anggap hal yang biasa dan bukan lagi menjadi sebuah masalah. Begitu juga dengan Nadira. Tapi sebenarnya aku menyembunyikan satu cerita dari Nadira. Dan bukan hanya Nadira yang tidak tahu, semua orang yang mengenalku juga tidak tahu mengenai cerita itu. Cerita mengenai mengapa aku begitu tidak menyukai rambut panjang, dan juga warna merah.

***

Sore itu tidak seperti biasanya. Vena tak mau keluar dari kamarnya untuk bersepeda mengelilingi komplek perumahan bersamaku. Katanya, perutnya sedang sakit. Aku masih tetap bersikeras mengajaknya agar ia mau bersepeda bersamaku, meskipun hanya sebentar. Aku merengek kepada mama agar beliau mau membujuk Vena untuk pergi bersepeda denganku. Namun mama hanya tersenyum dan berkata 'Sayang, Vena itu sedang sakit. Coba kamu aja yang muterin komplek sini sendirian naik sepeda. Nggak akan ada penculik atau hantu kok, kan ada pak satpam di depan rumah' aku terdiam sambil mencerna perkataan mama barusan. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranku saat itu, namun aku sudah berada diluar pagar rumah sambil menuntun sepeda wim cycle unguku. Rasanya aneh sekali bersepeda sore sendirian tanpa ditemani Vena. Biasanya kami akan berbincang mengenai es krim coklat, lolipop bikinan mama, dan boneka teddy bear usang di gudang yang konon kalau malam akan keluar dari gudang dan menjaga kami saat tidur malam. Pak satpam yang biasanya menjaga rumah kami menatapku dengan heran. 'Non, kok sendirian? Non Vena nggak ikut ya?' tanpa sedikitpun menoleh kearah pak Mun, satpam yang sudah mengabdi selama 20 tahun pada keluarga kami, aku hanya menggeleng pelan sambil menaiki sepedaku dan mulai mengayuhnya. 'Hati-hati ya, Non. Awas ada ayah datang nanti' dan sekali lagi aku tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan satpam berambut cepak bak tentara itu. Namun kalimat di bagian belakang perkataan pak Mun sempat membuatku tersentak. Dan benar saja, belum genap aku melewati 3 rumah, sebuah CRV merah datang dari arah berlawanan dan membuatku segera memutar balik sepedaku dan menangis sejadinya.

***

Panik. Itulah yang kurasakan siang ini. Pelajaran bu Restu akan dimulai beberapa menit lagi dan makalahku tertinggal di rumah. Bagus, aku akan mati sebentar lagi, pikirku. Bu Restu itu bukan guru biasa. Beliau adalah guru fisika paling killer di sekolahku, yang juga merangkap sebagai wakasek kesiswaan. Nadira mencoba menyabarkanku dan memastikan bahwa printer di ruang fotokopi sekolah tidak kehabisan tinta. Namun semuanya sia-sia, printer tua ini ternyata kehabisan tinta, seperti biasa. 'Nad, gimana nih? 5 menit lagi bu Restu sudah masuk kelas' Nadira yang sama paniknya denganku hanya celingak-celinguk tidak jelas. Mas-mas penjaga ruang fotokopi di dekat parkiran motor juga ikut kebingungan. Dia sudah menyarankan agar kami keluar sekolah dan menuju warnet terdekat, namun rupanya satpam sekolah kurang bersahabat pagi ini.
Bel pelajaran bu Restu baru saja berbunyi. Aku benar-benar merasa nyawaku akan melayang sebentar lagi. Nadira mengacak-acak rambutnya, lalu berdecak sebal. Kami berdua putus asa dan memutuskan kembali ke kelas dengan perasaan campur aduk. Langkah kakiku terasa sangat berat untuk saat ini. Apalagi lagi kelas kami berada di lantai 2. Hormon adrenalinku serasa melonjak naik produksinya, membuat jantungku bekerja lebih cepat. Nadira sempar beristighfar beberapa kali, sementara mulutku komat-kamit membaca bismillah. Benar saja, saat tiba di depan pintu kelas, raut wajah bu Restu seperti macan kelaparan yang akan segera menerkamku. Aku menelan ludah sambil berusaha berpikir positif, namun gagal. 'Darimana saja kalian?' nada bicara bu Restu sudah mulai tidak enak didengar. 'Kami da....dari ru....ruang fotokopi, bu' ujar Nadira gemetaran. 'Ngomong yang jelas!' 'Kami dari ruang fotokopi, bu!' kataku setengah berteriak. 'Ya sudah, kembali ke tempat duduk kalian' kami berlari kecil menuju bangku nomor tiga di pojok dekat jendela, dengan masih berharap ada dispensasi pengumpulan tugas. Tidak peduli meskipun nilaiku harus dipotong, paling-paling juga SKM.
Bu Restu masih berbasa-basi soal SNMPTN Undangan, seperti biasa, namun tetap saja aku tidak bisa tenang. Raut wajah Nadira juga tidak berubah semenjak tadi, masih tetap panik. Rambutnya yang terurai panjang cepat-cepat ia kucir tanpa menyisir rambutnya terlebih dahulu. Kami saling berpandangan, seolah-olah kami bisa saling membaca pikiran. 'Oh iya, kalian ada tugas makalah tentang fluida, teori kinetik gas, dan termodinamika kan? Kumpulkan ya, tidak ada dispensasi' jantungku serasa copot. Nadira mendesah pelan. Ya sudahlah, paling-paling disuruh keluar kelas lalu menulis pernyataan orang tua. 'Ve, sorry ya, aku ngumpulin duluan tugasnya' aku menangguk pelan sambil tersenyum. Nadira melangkahkan kakinya dengan berat ke meja guru, meletakkan makalah 40 halamannya keatas meja, lalu kembali dengan raut wajah yang tidak berubah sama sekali, masih tetap panik. 'Sudahlah, Nad. Nggak apa-apa kok. Paling cuma disuruh keluar kelas deh, beneran' ucapku menenangkan Nadira. Begitulah Nadira, yang tertimpa musibah siapa, yang heboh siapa. 'Yang tidak mengumpulkan, apapun alasannya, harap segera keluar kelas sekarang. Jangan lupa besok surat pernyataan orang tua ya' Nadira menatap kearahku, aku hanya tersenyum kecil dan melangkah keluar kelas.
Rupanya aku tidak sendirian, ada Radit yang sudah lebih dulu berada di luar kelas tanpa disuruh. Hampir setahun aku berteman dengan Radit, tapi kami sama sekali tak pernah bercakap-cakap. Bahkan menyapa saja jarang. Sebenarnya wajah Radit lumayan juga menurutku, mirip dengan Zayn Malik. Hanya saja kulit Radit agak lebih gelap dari Zayn Malik. Wajahnya juga lebih arab lagi. 'Nggak bawa makalah juga ya, Dit?' Radit hanya mengangguk pelan. Tak tampak sedikitpun raut wajah bersalah di wajahnya. Dasar cowok, semuanya sama saja, batinku. 'Kamu ngumpulin besok makalahnya?' Radit segera merubah posisinya yang daritadi bersandar di tembok balkon koridor sambil memperhatikan anak kelas 10 berolahraga di lapangan, lalu menatap ke arahku. Aku tersentak. 'Oh, uhm, iya lah. Kalau kelamaan bisa-bisa nilaiku nggak SKM lagi' ujarku sambil duduk selonjoran sambil bersandar ke tembok balkon koridor. Rupanya Radit juga melakukan hal yang sama denganku, hanya saja kaki Radit ditekuk. 'Kalau gitu besok kita ngumpulin bareng aja, Ve' ujarnya sambil tersenyum kecil. Aku tersentak, dan kali ini benar-benar terperanjat. Senyum Radit benar-benar sukses membuat kupu-kupu di perutku beterbangan. Ada sebuah rasa yang berdesir sepintas di seluruh tubuhku, membuat jantungku kembali bedetak cepat. Aku terhipnotis, lalu mengangguk tanda setuju.

***

Hidup di keluarga yang broken home itu tidak mudah. Ayah dan ibuku memang sudah mengajukan perceraian ke pengadilan negeri tak jauh dari rumahku, namun kasusnya masih belum juga disidangkan. Aku memang tidak pernah mau tahu urusan orang tua. Lagipula aku setuju-setuju saja jika ayah bercerai dengan mama. Watak ayah yang keras dan kasar membuatku menganggap rumah adalah neraka kecil bagiku. Dari kecil aku tidak pernah melihat ayah berbicara dengan nada lembut, apalagi tersenyum. Aku sudah lelah menangis melihat mama yang selalu menjadi korban tangan ringan ayah, juga Vena yang rambut panjangnya sering menjadi sasaran ayah untuk dijambak sampai menangis. Aku tidak pernah menjadi sasaran jambakan ayah karena aku selalu mengucir rambutku, namun aku sudah terbiasa dengan gagang sapu yang selalu mendarat tepat di tangan kananku saat aku tidak menjalankan tugas dari ayah dengan baik. Entah apa yang membuat ayah menjadi begitu kasar. 
Pagi itu adalah hari pertamaku masuk SMP. Dengan senyum lebar aku memakai rok biruku dengan bangga. Mama nampak tersenyum, meskipun aku tahu beliau baru saja berhenti menangis. Pasti ayah pergi dari rumah lagi dan bermain dengan selingkuhannya, pikirku. Aku memeluk mama. Rupanya air mata beliau kembali meleleh. 'Sudahlah, ma. Ngapain nangisin orang kaya ayah' mama melepaskan pelukannya dan tersenyum dalam tangisnya. Hatiku sudah biasa tersayat-sayat melihat mama yang selalu menangisi ayah. Luka yang ditinggalkan ayah masih begitu berbekas, baik di tangan kananku, maupun di hatiku. 'Sudah jam 6 pagi, Ve. Mama panggil Vena dulu ya, lama sekali dia ganti bajunya' mama berlari ke kamar Vena di lantai 2, sementara aku berjalan ke dapur dan memasukkan sekotak bekal beserta minumnya ke dalam tasku. Belum sempat aku menutup rapat resleting tasku, mama berteriak keras. Aku membanting tasku yang sudah ku pakai ke lantai dapur dan menghampiri mama. Betapa terkejutnya aku saat tiba kamar Vena. Banyak sekali bercak darah di kamarnya. Vena tergeletak lemas tak berdaya. Matanya sembab, wajahnya pucat. Aku masih ternganga di depan pintu kamar Vena, membiarkan butiran-butiran air mataku terjun bebas ke seragam putih baruku. Saudara kembarku itu menatap kearahku, tersenyum sesaat, lalu menutup matanya untuk selamanya, dengan rambut panjang tergerainya yang penuh dengan darah dan silet yang masih tergenggam di tangannya. Seragam putih-birunya juga ternodai oleh darah yang tak henti-hentinya mengucur dari pergelangan tangan kirinya. Badanku lemas. Separuh jiwaku telah pergi untuk selamanya. Teriakan mama semakin menjadi dan berubah menjadi tangis. Aku tersujud. Dan, brak! Aku lupa segalanya.

***

'Ve, ngumpulin sekarang yuk? Surat keterangan dari orang tuanya udah kamu bawa kan?' tiba-tiba Radit datang dengan senyum manisnya itu saat aku sedang asik bermain remi bersama Nadira dan beberapa anak lain di bangkuku. Secara otomatis, kupu-kupu di perutku kembali beterbangan. Aku berusaha kembali fokus pada kenyataan setelah sesaat terbang bersama kupu-kupu itu, dan berhasil. Aku menoleh ke belakang, membongkar tas, mengambil makalah fisika yang nilainya sudah dipastikan akan terpotong menjadi SKM itu. 'Yuk, Dit. Udah kok, ini aku bawa' aku beranjak dari bangku dan berpamitan dengan Nadira. Sepanjang perjalanan menuju ruang guru, kami berdua sibuk menetili makalah masing-masing agar tidak ada bagian yang kurang atau terlewat. Paling tidak, nilai 75 pada makalah kami itu adalah nilai yang benar-benar ikhlas, sehingga kami tidak akan menjadi bahan sindiran bu Restu di kelas soal nilai bantuan atau apalah itu. 'Udah bener nih? Yakin ya?' Radit berhenti persis di depan pintu ruang guru dalam ragunya. 'Udah, bismillah aja bener, Dit. Coba ngumpulin dulu aja lah daripada nilai kita kosong' ucapku sambil membuka pintu ruang guru. Udara segar dari pendingin ruangan menyeruak masuk ke tubuhku. Rupanya bu Restu sudah menunggu kami. 'Mbak, mas, kemari. Kalian pasti dari XI IPA 6 ya?' 'iya, bu' jawabku pelan seraya berjalan ke meja bu Restu yang berada di pojok belakang ruang guru. 'Pantesan itu guru serem abis, duduknya aja pojok belakang. Gelap lagi' bisik Radit di telinga kananku, yang sontak membuat kami tertawa kecil. Untung saja bu Restu tidak memperhatikan kami. 'Ini tugasnya, bu. Ini surat pernyataannya juga' ujar Radit sopan kepada bu Restu. 'Sudah lengkap kan? Oke, kalian boleh meninggalkan ruangan ini. Terima kasih' dingin. Tidak ada tanggapan lain mengenai makalah kami itu. Bukannya membaca, beliau malah membanting makalah kami ke tumpukan makalah lain di bawah. Cukup sakit hati aku melihatnya. Jerih payahku selama seminggu hanya dibanting dan tidak dibaca sama sekali. Aku tahu Radit juga merasakan hal yang sama, wajahnya nampak memerah. Mungkin Radit mencoba menahan amarahnya, pikirku. Setelah pamit, kami meninggalkan ruang guru. Kami hanya terdiam, sebelum akhirnya Radit membuka mulutnya dan mulai mengomel. 'Sialan, makalah kita cuma dihargai dengan bantingan dan tatapan acuh tak acuh. Guru macam apa dia!' ini mungkin terdengar gila, tapi saat Radit marah justru wajahnya jadi semakin membuat tubuhku terasa ringan dan terbang. 'Ya emang gitu kan sifatnya bu Restu. Udahlah, mendingan ke kantin aja. Butuh ekstra kesabaran menghadapi guru macem bu Restu' Radit menyetujui ajakanku ke kantin, dan masih melanjutkan omelannya tentang tugas fisika itu. Lucu juga mendengar Radit mengomel seperti ini. Apalagi aku termasuk baru dekat dengannya kemarin.

*to be continued....